Cerpen
Pertama Kali
Namaku
Salma. Hari itu teman sekelasku sedang bercerita saat mereka tentang hal yang
biasa mereka lakukan setiap hari minggu bersama keluarganya. Aku jadi iri
dengan mereka bisa pergi ke suatu tempat bersama keluarga. Aku hanya diam tidak
bercerita, karena apa yang harus aku ceritakan kepada mereka. Hari libur
keluargaku biasa-biasa saja, kedua orang tuaku bekerja dan aku hanya berdiam
diri di rumah bersama sepupuku. Aku tinggal bersama Papah, Mamah, Nenek, Tante
Risma, Lia, Deril adik Lia dan Nadin. Kedua orang tua Nadin bekerja diluar
kota.
“
Sal, kenapa diem aja? Ga mau cerita?” tanya Dena. “ Engga apa-apa kok”.
Jawabku. “Oh iya besok minggu aku sama keluargaku mau pergi ke tempat wisata,
kalian mau ikut?” tanya Silvi.
“
Wah seru tuh, tapi kalo aku gak bisa mau ke rumah nenek nih.” Jawab Dena. “
Kalo kamu Sal? Mau ikut?” tanyanya
“
Maaf ya aku gak ikut, lagian kan ini acara keluarga kamu Sil.” Jawab Salma. “
Oh gitu, emang kamu gak kemana-mana minggu ini?” tanya Silvi lagi
“
Emmm, pergi mungkin” dengan nada gugup.
“ Oh pergi, tumben banget ya, biasanya kan cuma diem
dirumah.” Sindir Silvi sambil melirik ke arahku. “ Sudahlah Sil jangan
memperkeruh suasana.” Lerai Dena. Aku memang biasanya tidak terlalu peduli
dengan omongan orang lain. Tapi kali ini ucapan Silvi terngiang-ngiang di
kepalaku.
Jam
pelajaran pun dimulai, aku terus saja terpikirkan tentang hal itu. Teman
sebangkuku melihat ada yang aneh dengan sikapku yang diam saja.
“ Kamu kenapa Sal? Gara-gara Silvi ya?”tebak Fina.
“ Kamu denger kan tadi ucapannya Silvi?”tanyaku lesu
“ Iya, yaudah jangan dipikirin, emang kan sifat dia
kaya gitu. Senyum lagi ya”bujuk Fina.
Akhirnya
jam pelajaranpun selesai. Aku bergegas keluar dari kelas menghindari Silvi.
Hari ini aku pulang bersama sepupu-sepupuku.
“
Hai Kak Salma, kok cemberut gitu sih?” tanya Nadin. “ Tau nih, senyum dong
nanti cantiknya ilang. Hahahaha.” Goda Bram.
“
Apaan si? Garing tau gak?” ucapku dengan kesal. “ Yaudah sebenernya ada apa nih
Kak Sal?” tanya Gio. “ Tadi temen-temen di kelas ngomongin tentang hari libur
mereka pergi kemana. Tau kan kalian kalo kita apalagi aku, jarang banget pergi
hari libur. Kalo kamu si enak Gi, lumayan sering pergi, lah aku.” Jelasku.
“
Cupcupcup, kasihan sekali Kakak sepupuku ini. Yaudah gimana kalo hari minggu
ini kita pergi deh berlima, gimana?” usul Gio.
“
Wahhh, setuju banget, aku mau ikut pokonya!” ujar Lia. “Kok malah Lia yang
paling semangat?” heran Nadin.
“
Iya, aku juga setuju. Tapi kita mau kemana?” tanyaku. “ Kita pikirin nanti aja
sekarang kita pulang, tuh supir udah dateng.” Ucap Bram.
Kami
berlimapun masuk ke dalam mobil. Perasaanku menjadi berubah, pikiranku kini
melayang tinggi membayangkan keinginanku bisa tercapai berkat sepupu-sepupuku.
Kini aku menatap ke jendela luar mobil sambil tersenyum membayangkan apa yang
akan terjadi hari minggu nanti. Ternyata Nadin melihat ke arahku dengan tatapan
bingung.
“
Kak Salma! Lagi ngapain si? Mikirin apa hayo?” goda Nadin sambil menyelidik.
“
Mikirin, gimana nanti kalau kita pergi cuma berlima. Ini kan pertama kalinya,
pergi gak sama Mamah Papah. Iya kan?”
“
Eh, kalo dipikir-pikir bener juga ya Kak, apalagi aku. Kan tinggal sama Nenek
sama Kakak, pasti kalo pergi selalu sama Mamah Papahnya Kakak.” Jawab Nadin.
Tidak
terasa perjalanan dari sekolah kami menuju rumah, kini kami sudah sampai di
rumah nenek Gio, yang merupakan adik dari kakekku, Nadin, Lia,dan Bram. Kami
diantar dan dijemput oleh supir nenek Gio, bisa dibilang itu adalah mobil
keluarga besar. Rumah kami cukup berdekatan, karena 1 komplek perumahan bisa
dibilang keluarga besarku semua, memang ada beberapa warga pindahan.
“
Kita atur jadwal pertemuan kita selanjutnya hari sabtu, pulang sekolah di
markas. Oke?” tanya Gio. “ Oke!” kami semua menjawab dengan semangat.
Kami
pun bergegas masuk ke rumah masing-masing. Selepas mengucap salam, kami bertiga
masuk. Dan hanya bertemu dengan nenek kami.
“
Assalamu’alaikum nek.” Ucap kami bertiga. “ Wa’alaikumsalam, pulang juga
kalian. Nenek sendirian di rumah, gak kasian apa sama nenek?”
“
Iya nek kita baru pulang. Emang Mamah belum pulang? Tante juga belum nek?” tanyaku.
“ Ya seperti yang kalian lihat, nenek sendirian di rumah. Yasudah langsung
ganti baju, shalat, terus makan siang sama-sama ya”
“
Iya nek.” Jawab kami. “ Oh iya nek, Deril sama Rey belum pulang?” tanya Lia. “
Sudah, mereka langsung pergi main ke rumah Abiel. Anak TK seperti mereka saja
sudah suka main, apalagi yang seperti kalian!”ucap nenek dengan nada menyindir.
Kami
bertiga saling pandang, memberi isyarat agar cepat pergi ke kamar untuk
berganti pakaian. Di dalam kamar, omongan nenek terngiang-ngiang di telingaku
yang membuat hatiku menjadi bimbang. Tapi, menurutku aku juga berhak menentukan
pilihanku sendiri. Setelah aku selesai shalat, ada suara ketukan dari luar.
Tok
tok tok. Suara ketukan dari luar
kamarku. “Kak Salma, ayo turun kita
makan dulu.” Ucap Nadin. “ Iya Nad, bentar.”jawabku. Kemudian aku membuka pintu
lalu aku berbicara kepada Nadin dan Lia.
“ Nad, Lia, kayaknya kita gausah pergi
deh kakak takut kalau gak dizinin sama Mamah atau Nenek.” Ucapku sendu.
“ Engga Kak, aku gak setuju. Lagi pula,
ini bakalan jadi pengalaman pertama kita semua Kak.” Rengek Lia. “ Iya Kak,
lagian Kakak yang pengen masa Kakak juga yang ngebatalin si?.”bantu Nadin.
“ Oke deh, makasih ya, kalian udah
semangatin lagi aku.” Ucapku sambil memeluk Nadin dan Lia.
Kami pun turun ke bawah menuju ruang
makan. Disana sudah ada Mamah, Nenek, Tante, dan Deril.
“ Ayo, kalian juga makan bareng sini!” ajak
Mamah. “ Iya Mah” ucapku. Selama makan siang berlangsung, tidak ada yang
membuka suara, kecuali Deril yang meminta makanan dari Lia, kakaknya. Setelah
selesai makan aku bertanya kepada Mamah.
“ Mah, Papah kemana?”tanyaku “Papah
pergi ke luar kota, ada urusan mendadak.” Jawab Mamah. “Oh gitu.” “ Emangnya
kenapa Sal?”tanya Mamah. “ Gak ada apa-apa kok Mah, cuma nanya aja.” Jawabku
seadanya.“ Yasudah Mamah istirahat di kamar dulu ya!”ucap Mamah lalu pergi ke
kamarnya.“ Iya Mah.” Akupun segera pergi.
Aku mengajak Nadin dan Lia untuk
mengerjakan tugas yang diberikan tadi di sekolah. Kami berkumpul di ruang
keluarga, lalu Bram dan Gio datang menghampiri kami.
“ Hey kalian, dicari di markas gak ada.
Ternyata ada di rumah.” Ucap Bram. “Ada apa emang?” tanyaku.
“ Kan biasanya kita main, ini malah pada
diem-diem aja.”ucap Gio dengan nada kesal. “ Kak Gio, Kak Bram, santai dulu
dong! Ini kita lagi ngerjain PR dulu tau. Abis itu baru deh main.”jelas Lia.
“ Iya lagian, ini juga udah selesai kan
Kak Sal?” tanya Nadin. “ Iya nih udah selesai. Yuk main.”jawabku.
Kami berlima pergi keluar rumah untuk
bermain petak umpet. Diantara kami berlima, Bram-lah yang paling jahil,
berisik,dan tidak mau mengalah alias keras kepala. Jika kami bermain petak
umpet pasti ada saja cara dia membuat agar Lia yang kalah dan harus menghitung.
Dan benar saja, kali ini Lia yang
menghitung dan harus mencari kami berempat. Bram memberi ide untuk kami
bersembunyi bersama di balik tembok. Setelah lama kami bersembunyi, Bram pergi
untuk melihat keberadaan Lia. Namun, Bram ketahuan oleh Lia dan Bram memberi
tahu kepada Lia keberadaan kami. Tapi aku, Nadin, dan Gio sudah berlari seperti
maling yang takut ketahuan warga.
Dan kami bertiga berhasil
memenangkannya. Dan Bram yang kalah.
“ Ahh, curang kalian bertiga malah kabur”ucap Bram
dengan nada marah.
“ Ih, kan namanya juga permainan, gitu
aja marah”sengit Nadin. “ Udah jangan pada berantem”lerai Gio. “ Gimana kalau
kita jajan aja gimana? Haus nih”saranku dengan semangat.
“ Setuju” ucap Nadin, Lia, dan Gio. “
Kamu gamau Bram? Ayolah masih mau marah nih?” tanyaku. “ Iyaiya deh”jawab Bram
dengan setengah terpaksa.
“ Gini deh kita baikan yaa?”rayu Gio. “
Iya iya kita baikan” jawab Bram dengan senyuman. “ Oke oke kita tos.”ajakku. “
Brother and Sister Solid Boom” ucap kami semua dengan semangat. Lalu kami
berpelukan.
Lalu kami berjalan ke arah taman komplek
mencari tempat berjualan para pedagang kaki lima. Setelah kami menemukan satu stand makanan, kami duduk dan
berbincang-bincang. Aku bahagia masih bisa berkumpul dengan saudara sepupuku.
Sebenarnya dahulu aku, Nadin, Gio dan Bram sering bermain dengan sepupu yang
lain juga. Namun, karena mereka sibuk dengan kesibukan masing-masing jadi
jarang bermain lagi dengan kami.
Sekarang hanya kami berempat yang
tersisa, dan tahun lalu Tanteku ibu Lia dan Deril adik Lia, memutuskan untuk
pindah ke sini tinggal bersama Nenek dan aku.
“ Wey Kak bengong mulu deh perasaan. Nih
pesenan kita udah sampe”ucap Nadin. “
Eh, bukan gitu. Aku cuma lagi mikir, apa kita bakal bersama-sama sampai kita
dewasa? Main bareng, jajan bareng kaya gini? Kan sama kakak-kakak yang lain aja
udah pada jauh”ucapku dengan nada sendu.
“ Iya ya, tapi kan gak ada yang tau Kak Sal
ke depannya. Semoga kita bareng-bareng terus ya” hibur Gio. “ Oke”.
Setelah menyantap jajanan, Gio memberi
tahu satu hal.
“ Aku udah punya ide buat kita bakal
pergi nanti hari minggu.”ucap Gio dengan semangat. “ Apa?”tanyaku tak kalah
semangatnya.“ Kita bertemu di markas hari sabtu.”ucap Gio, menutup
perbincangan. Lalu kami langsung pulang ke rumah karena hari sudah sore.
Tak
terasa hari-hari cepat berlalu. Mungkin aku juga berdo’a agar cepat hari sabtu.
Semenjak hari itu aku jadi jarang bermain dengan Silvi, entah aku yang
menghindar atau dia yang menghindar. Sudahlah, mungkin kami akan berbaikan lagi
nanti.
Hari ini aku dan keempat sepupuku akan
bertemu di rumah pohon untuk membahas rencana kami. Kami tidak pulang bersama
karena Gio ada kerja kelompok dan Bram bermain futsal bersama teman sekelasnya.
Aku pulang hanya bertiga, tetapi tetap dijemput oleh mobil keluarga.
Setelah sampai rumah aku langsung
bergegas berganti pakaian, lalu makan siang. Tak lupa berpamitan dengan Mamah,
Nenek, dan Tante. Kami bertiga berjalan menuju markas. Tempatnya berada di
belakang taman rumah Nenek Gio. Disana ada rumah pohon yang biasa kita gunakan
untuk bermain monopoli, ular tangga, dan yang lain. Biasanya menjadi tempat
berkumpul dengan sepupu-sepupu yang lain. Karena yang lain sudah besar sekarang,
jadi hanya kami yang menempatinya. Tapi, mereka juga pernah sesekali datang ke
sini tapi malam hari bersama sepupu yang sudah besar juga tentunya.
Kami
bertiga langsung naik ke rumah pohon. Lalu membaca buku cerita yang ada di sana
sambil menunggu Bram dan Gio. Heningpun terjadi, lalu ada suara dari luar. Kami
terus melihat ke arah pintu, takut ada sesuatu yang akan terjadi.
“
Kak Salma, Kak Nadin, itu suara apa? Lia takut.”sambil bersembunyi
dipunggungku. “ Kakak juga gatau Li”jawabku dengan tenang agar Lia percaya.
Sebenarnya Akupun agak takut dengan suara yang barusan terdengar.
“
Dorrr.” teriak Gio dan Bram sambil tertawa. “ Ihhh, apa-apaan si kalian kaget
tau.”ucap Nadin dengan wajah yang kesal.
“ Maaf. Udah lama nunggunya?”tanya Gio. “ Lumayan”jawabku.
“ Langsung aja ya. Rencanaku kita pertama kumpul jam
5 pagi”ucap Gio sambil menaik turunkan alisnya. “ Hah, emang kita mau kemana
pergi jam segitu?”ucapku terkejut dengan usul Gio.
“
Sini-sini kumpul semua kepalanya, aku bakal bisikin kemana kita akan pergi”ucap
Gio. Giopun membisikan tempat yang akan kita datangi.
“
Kenapa gak naik mobil aja, mungkin lebih cepet nyampenya“ucap Lia sedikit
mengeluh. “ Di situ tantangannya, kita bakalan jalan kaki dari rumah ke sana.”ucap
Gio. “ Aku setuju, lagian kita belum pernah kan kesana?”tanya Bram.
“
Bener kata Bram Kak Sal. Kok malah Kakak yang ga semangat si?” tanya Nadin. “
Hmm, Kakak takut Mamah sama Papah marah. Nenek juga pasti ga izinin.” Jawabku
sedih.
“
Aku mau kasih saran, kalian pergi diem-diem aja. Kalau aku diizinin si”kata
Gio. “ Iya Kak Sal, ikut ya. Aku kan belum pernah” rengek Lia.
“
Oke, aku setuju. Besok pagi, kumpul dimana?”tanyaku dengan wajah yang sudah
berubah senang dari sebelumnya.
“ Nah gitu dong senyum dari tadi. Kita
kumpul di taman kompleks depan oke?” “ Oke” ucap kami serempak.
Setelah itu kami pulang ke rumah. Dan
agar keluarga yang ada di rumah tidak curiga, maka kami bertiga memutuskan
untuk tidur bersama di kamarku.
Keesokan
paginya setelah shalat subuh, kami bingung bagaimana keluar rumah tanpa
ketahuan orang rumah.
“ Kak, gimana caranya keluar biar gak
kedengeran Mamah sama Papah?” tanya Lia.“ Lewat jendela aja gimana?”usulku. “
Yaudah deh ayo Kak buka jendelanya.”suruh Nadin. Setelah itu aku membuka
pelan-pelan jendela, lalu satu persatu lompat dari jendela ke luar.
“ Aduh gerbangnya.”ucapku sambil menepuk
jidat. “ Kita tarik pelan-pelan aja Kak.”usul Nadin. Kamipun menarik gerbang,
berusaha agar meminimalkan suaranya agar tidak terdengar siapapun agar orang
tua kami tidak mengetahui kalau kami pergi tanpa izin.
Setelah
berhasil keluar dari rumah kami, berlari menuju taman komplek. Sesampainya di
sana kami tidak melihat Gio dan Bram. “ Kak Gio sama Kak Bram kok belum dateng
si?” tanya Lia. “ Gatau tuh, lelet banget mereka yang nyuruh mereka juga yang
lama datengnya.” Jawab Nadin kesal.
Aku menelpon Gio namun telponnya tidak aktif.
Suasana di taman sangat sepi, hanya ada suara jangkrik, cahaya sang purnama,
dan angin yang membelai rambut. Aku hanya takut ada seseorang yang kenal pada
kami dan melaporkannya kepada Mamah, Papah, atau Nenek.
Setelah 20 menit menunggu, mereka
akhirnya datang dengan wajahnya yang tanpa dosa. “Hai, maaf lama, hehehe ada
panggilan alam.” Ucap Bram. “ Sudahlah, ayo kita berangkat perjalanan kita
jauh!” ucap Gio.
“ Lah harusnya kita yang bilang gitu
malah kamu Gi.”ucapku dengan nada jengkel. “ Hehehe, maaflah. Terlalu
bersemangat.”jawab Gio.
“ Kalo bersemangat gak telat
dong?”sindir Nadin. “ Udah-udah malah tambah lama nanti.” Leraiku. Kamipun
berjalan dengan Gio di depan, aku , Nadin dan Lia di tengah, dan Bram di
belakang. Untungnya komplek rumah kami sepi, mungkin mereka sudah bangun tapi
tidak menampakkan dirinya ke luar rumah.
Setelah
keluar dari komplek kami berjalan menuju pusat kota. Ada beberapa pedagang yang
memperhatikan kami, mungkin heran kenapa ada anak SD keluar sepagi ini? Jalan
kaki pula. Kami menghiraukan tatapan mereka, namun aku sedikit takut juga
terhadap orang asing. Tapi aku menikmati udara yang sejuk di pagi hari ini,
sebelum tercemar oleh polusi udara.
Sepanjang
perjalanan kami mengobrol banyak hal sampai tak terasa ternyata kami sudah
jalan cukup jauh, dan Gio mengingatkan kami kalau kita berada di tempat yang
terkenal angker di daerah itu. Entah mengapa, Bram yang tadi menyanyi di
sepanjang jalan kini diam. Mungkin dia juga takut.
“ Kak serem kalo lewat sini.” Ucap Lia
sambil bersembunyi dibelakangku. “Gak apa-apa ko, ini cuma depannya aja ko yang
serem, karena tertutup pohon besar.” Jelas Gio. “Gini aja, aku hitung sampai 3
terus kalian lari oke?”tanya Bram “Oke”
“ 1....2...3... lariiii.” Bram lari secepat mungkin
meninggalkan kami di belakangnya. Karena takut Lia memegangi bajuku sambil
menangis. Ya memang Lia yang paling kecil diantara kami jadi dia agak cengeng.
Setelah jauh dari tempat itu kami memutuskan untuk beristirahat di depan
pertokoan yang masih tutup.
Jarak dari tempat istirahat kami ke
tempat tujuan kami memang tidak jauh lagi. Namun aku melihat Gio yang dari tadi
melihat ke arah kiri terus menerus, entah ada apa disana. Karena penasaran akupun
mengikuti arah pandangan Gio. Dari kejauhan seperti ada dua orang lelaki yang
berjalan menuju kami. Dan benar kedua lelaki itu mendekat dan hendak menghadang
kami. Kamipun langsung bangkit dan hendak pergi. Namun sayang, kami terlalu
kecil dibanding dua orang itu.
“ Adik-adik kecil mau pada kemana masih
pagi ini”ucap salah satu yang berkepala botak. “ Mau ngapain kita ikut kalian?
Gak ada untungnya.”ucap Gio. “ Oh kalian berani ya? Yaudah langsung angkut
aja!”suruh orang satunya yang berambut gondrong. Aku melihat muka Lia yang
panik campur ketakutan. Aku dan yang lainpun sama ketakutannya. Tangan Gio dan
Nadin dipegang oleh kedua preman itu. Aku dan Bram berusaha membantu dengan
sekuat tenaga.
Tenaga yang kami tidak cukup untuk
melepaskan genggaman preman itu. Lia hanya menangis sejadi jadinya. “
Tolong..Tolong..Tolong..”teriak kami semua. Namun orang-orang yang berkendara
tidak ada yang berhenti untuk menolong kami. Karena tangisan Lia yang sangat
kencang, membuat bingung kedua preman itu dan mereka terlihat lengah. Inilah
kesempatanku untuk menyuruh Gio dan Nadin untuk menggigit tangan preman itu dan
menginjak kakinya.
Nadin yang pertama melakukannya, akupun
membantu menginjak kaki preman botak itu. Akhirnya terlepas juga. Aku, Nadin,
dan Lia bergegas lari. Aku melihat Gio menendang dan menggigit preman gondrong
itu dan di bantu oleh Bram yang menjambak rambutnya itu. Kemudian merekapun
berlari ke arah yang sama denganku. Kita tak tahu sampai kapan harus berlari,
tapi aku akan berlari ke tempat yang aman dari jangkauan kedua preman tadi.
Gio dan Bram mendahului kami, dan
menyarankan untuk berhenti dahulu. Kamipun menurut untuk berhenti di depan
rumah warga. “ Kalian gak apa-apa kan?”tanya Gio hawatir. “ Engga, cuma takut
doang. Tapi Lia gak berhenti-berhenti nangis.”ucapku. “ Kak, kita pulang aja
yuk, aku takut kak huhu”ucap Lia disela nangisnya. “ Sabar ya Li, ini bentar
lagi kita nyampe, iya kan Bram?”tanyaku kepada Bram untuk menenangkan Lia. Lia
berhenti menangis, hanya menyisakan cegukannya saja.
Akupun bingung harus bagaimana. Disisi
lain aku sangat ingin pergi ke sana, tapi di sisi yang lain aku tak tega
melihat keadaan Lia yang sekarang. Giopun sama bingungnya denganku. Dari
tatapan matanya dia merasa bersalah. Mungkin karena ini idenya.
“ Kak, Nad, Bram, Li, maafin aku ya.
Gara-gara aku kita jadi kaya gini”ucap Gio dengan wajah yang sangat bersalah.
Tapi Aku tahu ini bukan salah Gio. “ Engga Gi, bukan salah kamu kok. Sebenernya
kan ini gara-gara kakak yang pengen pergi di hari libur.”jelasku sambil melihat
kearah mereka semua.
“ Engga kak, ini bukan salah
siapa-siapa. Yang penting sekarang kita pergi dari sini dan melanjutkan
perjalanannya ya.”bujuk Bram. Kadang sifat Bram sok dewasa jika berada di
waktu-waktu tertentu.
“ Iya yuk sekarang kita jalan!”ajak Gio.
Saat itu Aku melihat kesedihan di wajah mereka perlahan menghilang. Nadin yang
dari tadi diam kini mengajak ngobrol Lia. Perasaan yang kami rasakan sekarang
sama. Bahagia, sedih, ketakutan,dan lelah menjadi satu.
Langit kini sudah mulai terlihat cerah.
Karena sang surya sudah perlahan keluar dari singgasananya. Namun, perjalanan
saat ini tidak diiringi dengan senda gurau ataupun nyanyian dari kami semua.
Diam, hanya itu yang kami lakukan. Banyak perasaan yang sudah kami alami hari
ini di usia sekecil ini. Mungkin hanya Gio yang sedikit mengerti, karena hanya
dirinyalah yang sudah duduk di Sekolah Menengah Pertama.
Dan
akhirnya setelah berjalan selama 2 jam, kami akhirnya sampai juga di tempatnya.
Yaitu area Car Free Day, mungkin
kalian bingung kenapa harus pergi sepagi itu untuk datang ke Car Free Day. Aku berpikir seluruh jalan
pada hari minggu akan di tutup mulai jam 06.00 pagi, karena Gio mengajak pergi
pagi hari sekali, ternyata aku salah. Aku hanya diam pura-pura tahu. Padahalkan
aku tidak pernah kesini sebelumnya. Dan saudara sepupuku setuju dengan hal itu,
entah mereka tahu atau mereka tidak tahu.
Aku sangat senang ketika sampai disini.
Begitu halnya dengan sepupu-sepupuku yang lain. Wajah mereka berubah 180
derajat dari sebelumnya. Tentunya Aku bersyukur karena mereka bisa sejenak
melupakan kejadian yang tadi.
Disana
banyak orang yang akan melakukan senam khususnya ibu-ibu. Kami berkeliling di
tempat pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang jalan. Lia sangat gembira
karena melihat banyak yang menjual mainan, mungkin saat pulang nanti Lia akan
membelinya. Entah mengapa aku tidak terlalu tertarik dengan mainan ataupun
boneka, aku lebih tertarik pada makanan-makanan yang sangat menggiurkan itu.
Sepertinya Aku ingin membeli makanan yang banyak.
Kami tidak berniat untuk berolahraga,
walaupun kami memakai baju olahraga. Kami meneruskan perjalanan. Tiba-tiba Gio
dan Bram berhenti di pinggir lapangan yang sedang ada atraksi sepeda bmx dan skateboard. Aku melihat keantusiasan Bram dan Gio saat melihat
atraksi tersebut.
Saat
menonton atraksi, rasa lapar mulai mendatangi perut kami semua, akhirnya kami
membeli batagor.
“ Gak salah
kita Car Free Day cuma beli batagor
doang?” tanya Gio. “ Yaudah kalo kamu mau beli yang lain tinggal beli lagi apa
susahnya si Gi.”jawab Bram.
“ Emang habis ini kita mau ngapain?” Lia bertanya
lagi. “ Ya kan harusnya olahraga, lari atau olahraga apa gitu.” Jawab Gio. “
Lah kan dari tadi kita ngikutin kamu Gi.” Ucapku
“ Eh iyaya? Hehehe maaf.” Kata Gio. Kami pun
melanjutkan makan.
“ Cape juga ya jalan dari rumah ke sini.” Kata Bram
“ Iyalah, kalau gitu nanti jangan jalan. Kalian udah
tau kan dari komplek bisa naik taksi atau dianter aja biar gausah berangkat jam 05.00 lagi, jam 07.00
juga gapapa.”jelas Gio.
“ Iya deh, bener juga ya.” Ucap Nadin. “
Tapi kita bisa ngerasain gimana jalan kaki dari rumah ke sini, saling membantu
dalam kondisi darurat. Seneng bareng, sedih bareng, dan cape juga
bareng-bareng. Sepupu goals banget ga si?”ucap Bram dengan nada bangga.
“ Iya Bram bener, belum tau kan
kedepannya kita bakal bareng-bareng gini terus atau engga? ”ucapku sedih. “
Jangan gitu dong Kak, pokoknya kita berlima harus bareng-bareng terus.”bantah
Nadin, dia begitu yakin dengan apa yang aku katakan itu salah. Tapi aku merasa
hal itu akan terjadi cepat atau lambat. Karena apa? Karena sekarang saja sudah
jarang waktu yang kita gunakan bermain bersama Gio.
Aku tak tahu apakah nanti saat aku masuk
SMP nanti, akan kembali bermain bersama sepupu-sepupuku. Pasalnya Gio pernah
mengatakan, di SMP itu akan banyak tugas. Mungkin itu alasan Gio tidak bermain
lagi dengan kami. Ditambah dia mengikuti bimbingan belajar, jadi semakin kecil
kemungkinan kita akan bermain bersama. Itulah yang selalu mengganggu pikiranku
akhir-akhir ini.
Kami sepertinya tidak akan lama berada
disini, karena kami yang kelelahan dan terlalu banyak orang disini. Satu lagi
aku takut Mamah atau Nenek tahu kalau aku, Nadin, dan Lia pergi dari rumah
tanpa pamit. Dari tadi kami tidak memainkan ponsel karena takut mengundang
penjahat mengambil barang milik kita. Aku tidak menceritakan kekhawatiranku
terhadap Mamah kepada yang lain, karena aku sekarang sedang melihat mereka
tertawa. Begitu senang melihat orang-orang yang kita sayangi tertawa bahagia.
Aku sangat berterima kasih kepada Tuhan, karena telah menempatkanku bersama sepupu-sepupuku.
“ Kak, lama banget deh jalannya. Kalo
ada yang nyulik gimana?”ucap Nadin sambil menarik tanganku. “ Engga ada yang
nyulik ko, kan rame.”jawabku. “ Iya deh”ucap Nadin.
“ Sekarang kita pulang aja yuk!”ajak
Bram. “ Iya ayo, pulang aja Kak, liat muka Lia udah kucel”ucap Lia sambil
merengek dengan wajahnya yang memelas. Memang apa yang diakatan Lia benar,
matanya yang sembab karena habis menangis, rambutnya yang lepek akibat
keringat, dan wajahnya terlihat basah karena air mata yang bercampur keringat.
Sangat menyedihkan bukan?
Gio mengajak kami ke halte angkutan
umum, yang jaraknya jauh dari taman kota. Kita harus berjalan lagi, karena Car Free Day belum berakhir jadi
jalananpun belum dibuka. Saat menunggu angkutan umum, aku merogoh saku celana
dan aku tidak menemukan uangku disana, hanya ada ponselku saja.
Kegelisahanku terbaca oleh Gio. “ Kak
kenapa? Ada yang ilang?”tanya Gio hingga yang lainpun melihat ke arahku. “ Uang
Kakak ilang deh kayanya.”jawabku. “Berapa yang ilang Kak?”tanya Bram. “ Kakak
gak inget. Soalnya ini ilang semua.Gimana nanti bayar ongkosnya?”tanyaku
bingung. “ Udah Kak, pake uang kita aja dulu.”usul Gio. “ Yaudah deh, makasih
ya.”
Tak lama angkutan umumpun datang. “ Kita
naik yang ini, ayo masuk!”ajak Gio. Kamipun masuk kedalamnya. Hanya ada satu
ibu-ibu yang duduk dibelakang sopir. Aku jadi teringat, apakah ini balasan kami
karena pergi keluar rumah tanpa izin dari orang tua? Dari awal kejadian yang
kami alami, mungkin saja itu teguran untuk kami yang durhaka kepada orang tua.
Ini pertama dan terakhir kali keluar rumah tanpa izin dari orang tua.
“ Kak, apa ini balasan buat kita ya,
yang pergi tanpa izin?”tanya Nadin pelan namun terdengar oleh semua. Ternyata
Nadin sepikiran denganku. “ Entahlah, yang jelas kedepannya kita gak boleh
ulangi kesalahan yang sama.”jawabku. “ Eh iya apa ya Kak, ini gara-gara kita ga
izin”ucap Bram. “ Pasti orang rumah bingung deh nyari kita kemana, ponsel kita
juga dimatiin kan?”Giopun ikut menimpali. “ Yaudah, nanti kalau sudah sampai
rumah, kita ceritain deh yang sebenernya.” Semua mengangguk.
Perjalanan menuju pulang terasa lebih
cepat. Kini kami sedang berjalan menuju gerbang komplek. Sudah banyak orang
yang berlalu lalang. Perasaan takut ini semakin besar saat kami sudah berada di
depan rumah. Walaupun dari luar terlihat seperti tidak ada orang. Aku yakin
Mamah sudah menunggu kami di dalam bersama Nenek dan Tante Risma.
“ Kak aku mau masuk ke rumah Nenek ya.
Kalau misalnya di marahin ya jelasin aja yang sebenarnya. Dah.. aku masuk
ya”Gio berjalan memasuki rumah neneknya yang berada disebrang rumah nenekku.
“ Bram, kamu mau masuk dulu atau
langsung pulang ke rumah?”tanyaku pada Bram. “ Engga ah Kak, aku mau langsung
pulang aja. Takut kena marahnya dua kali. Hehehe” Brampun langsung pergi ke
rumahnya yang jaraknya hanya beda 7 rumah.
Kini giliran kami bertiga yang akan
masuk ke dalam rumah. “ Kakak aja yang ngetuk, Lia takut”ucap Lia kepada Nadin.
“ Engga ah, Kak Salma aja” ucap Nadin sambil menarikku dan dia bersembunyi dibelakangku.
Yasudah, mau tidak mau aku yang mengetuk pintu.
“ Assalamu’alaikum.”ucap kami bertiga. “
Wa’alaikumsalam”ucap seseorang dari dalam, yang sepertinya itu adalah Nenek. Setelah
pintu dibuka dan menampilkan sosok perempuan yang ternyata benar Nenek yang
membukakan pintu. Kami langsung mencium tangan Nenek. Nenek diam saja, tidak
ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Aku tidak bisa membaca ekspresi wajah
Nenek, wajah Nenek sangat datar.
Nenek langsung masuk dan kamipun
mengikuti dari belakang. Nenek membawa kami ke ruang keluarga. Disana sudah ada
Mamah dan Tante Risma yang sedang menonton televisi.
“ Kalian berdua saja yang tanya kepada
anak-anak, Ibu gatau mau bilang apa lagi sama mereka”ucap Nenek sambil pergi ke
kamarnya. Ucapan Nenek sangat menggambarkan kekecewaan terhadap kami. Sebelumnya
Nenek tidak pernah seperti ini, paling-paling Nenek hanya menegur kami. Rasanya
menyakitkan menjadi anak yang membuat kecewa.
Kamipun duduk menghadap Mamah dan Tante
Risma. “ Habis dari mana kalian?” Mamah yang angkat bicara duluan. “ Habis dari
Car Free Day Mah”jawabku pelan. “
Kamu tau? Mamah, Tante Risma, dan Nenek bingung mau nyari kalian kemana.
Pagi-pagi udah gak ada di kamar”ucap Mamah dengan nada tinggi.“ Kami minta maaf
Mah, keluar rumah gak izin sama Mamah”ucapku dengan gemetar aku tidak bisa jika
mendengar Mamah berbicara seperti ini. Air mataku sudah menggenang dipelupuk
mata, tinggal menunggu waktunya untuk turun.
“ Lia, liat Mamah. Kalian melakukan ini,
bikin semua orang pusing. Liat adik kamu nyari-nyari kamu terus.”ucap Tante
Risma keras kepada Lia. Memang sikap Tante Risma lebih galak daripada Mamahku.
“ Maafin Lia Mah”tangis Lia pecah.
“ Nadin, kamu tau kenapa Nenek kecewa
sama kamu? Karena dari tadi Nenek yang paling khawatir sama kalian semua.
Apalagi Lia kalian ajak. Nenek merasa sudah lalai terhadap amanah yang
dititipkan sama Mamah kamu Nad. Mamah sama Papah kamu kerja di luar kota dan
menitipkan kamu kepada kita supaya kamu ada yang jagain. Bukan malah main pagi
buta.”ucap Mamah. “ Maafin Nadin Mah. Bukan maksud Nadin kaya gitu Mah.”ucap
Nadin. Mamah memang sudah menganggap Nadin seperti anaknya sendiri, dan Nadin
memanggil Mamahku dengan sebutan Mamah juga.
“ Ini semua salah aku Mah, salah aku
yang pengen jalan-jalan di hari minggu.”ucapku sambil menangis. Air mata yang
tadi menggenang akhirnya jatuh juga. “ Kenapa gak bilang sama Mamah? Mamah juga
bisa ngajak kalian pergi.”jawab Mamah. “ Aku takut Mamah ga mau pergi. Aku
sangat ingin pergi minggu ini, karena temen-temen aku pergi bersama
keluarganya.”aku menjelaskan apa yang menjadi tujuanku pergi.
“ Karena temen? Kamu gak usah dengerin
kata orang lain. Hidup ini kamu ko yang jalanin bukan temen kamu.” Ucap Mamah
dengan nada yang masih kecewa. Aku berjalan mendekati Mamah “Aku janji Mah, gak
akan terpengaruh omongan orang lain.”ucapku sambil memegang tangan Mamah. “
Kamu bisakan main di rumah pohon seperti biasanya sama Gio dan Bram”ucap Mamah
dengan sedikit melembut. “ Untuk sekarang kalian belum boleh pergi tanpa orang
dewasa yang mendampingi, kalau kalian sudah cukup umur silahkan saja.”
“ Mamah maafin kalian semua”ucap Mamah
sambil tersenyum. Aku, Nadin, dan Lia pun memeluk Mamah. Lalu kami memeluk
Tante Risma. Ada satu orang lagi yang belum kami mohonkan maafnya.
Kami bergegas ke kamar Nenek. Kami lihat
nenek sedang berbaring di kasurnya. Nadin yang langsung memeluk Nenek dari
belakang. “ Nek, maafin Nadin ya Nek. Nadin janji Nadin gak akan mengulangi
perbuatan ini lagi”ucap Nadin di sela-sela tangisnya.
“ Iya Nek, aku juga minta maaf Nek udah
buat Nenek kecewa.”ucapku sambil mengusap kaki Nenek. Kemudian Nenek duduk dan
memeluk kami. “ Iya Nenek maafin cucu-cucu Nenek. Nenek juga udah denger
penjelasan kalian tadi.”ucap Nenek dengan senyuman.
Aku merasa senang kesalahanku dimaafkan
oleh mereka semua. Untung saja Papah sedang tidak ada di rumah, jika ada
mungkin aku sudah kena marah habis-habisan. Kami langsung pergi ke kamar untuk
bersih-bersih. Aku merenungkan kesalahan-kesalahan yang hari ini aku perbuat.
Setelah selesai Aku keluar kamar untuk
menemui Nadin dan Lia. “ Hari ini hari yang melelahkan ya Kak.”kata Nadin “ Iya
bener. Eh gimana nasib Bram sama Gio ya?”tanyaku. “ Palingan Kak Bram dimarahin
sama Papahnya”tebak Lia. “Gamungkin deh kalo mereka dimarahin, kan mereka
laki-laki. Palingan diceramahin aja.”aku pun ikut menebak.
“ Yaudah sekarang temuin mereka
yuk!”ajak Nadin. “ Ayoo”jawabku dan Lia. Kami bergegas keluar rumah, sampai di
pintu Mamah memanggil.
“ Mau kemana kalian?”tanya Mamah “ Mau
ke rumah Bram”jawabku. “ Gamau makan dulu?”tanya Mamah. “ Engga Mah, kan tadi
udah jajan. Kita pamit ya Mah”pamitku kepada Mamah.
Baru saja kami keluar pagar rumah, Bram
dan Gio sudah berjalan ke arah kami. “ Gimana Kak kalian dimarahin engga?”tanya
Lia kepada Gio dan Bram. “ Ya gitu deh, dimarahin si engga, cuma dinasehatin
tapi pake nada tinggi”jawab Bram. “ Kalo Kak Gio?” tanya Lia lagi. “ Kalo Kakak
si, biasa aja gak dimarahin kok. Kan Kakak udah biasa lagian kan sekolah Kakak
di sana kan?”jawab Gio. “ Oh iya ya aku baru inget.”ucap Lia.
“ Emang kalian dimarahin?”tanya Gio
penasaran. “ Bisa dibilang dimarahin, tapi gak dibentak atau apapun. Ya samalah
apa yang dikatakan Bram.”jelasku. “Yasudah dari pada sedih-sedihan gimana kalo
kita main monopoli atau apa gitu di rumah pohon.”ajak Nadin. “ Ayoo!”jawab kami
berempat.
Kamipun langsung bergegas ke rumah
pohon. Kami bermain monopoli disana. Setiap kami bermain monopoli pasti Lia
yang menjadi sasaran Gio dan Bram untuk dikerjai. Dari mulai harus membayar
yang sangat mahal, rumah yang dibeli Lia di sembunyikan, dan masih banyak
tingkah jahil mereka. Kami biasanya bermain hingga sore hari. Ketika malam
hari, waktu yang dilalui hari ini begitu cepat. Tak terasa besok adalah hari
senin, yang artinya mulai kembali beraktivitas. Kembali bertemu dengan materi
dan tugas. Malam ini mungkin menjadi malam yang menyenangkan bagiku.
Keesokan harinya pagi-pagi di sekolah,
setelah mengikuti upacara bendera Dena dan Silvi menghampiriku. Mereka menghampiriku
sekarang karena sejak upacara akan dimulai, aku selalu menghindari mereka. Tapi
jika sekarang mereka yang menghampiriku, aku bisa apa.
“ Sal, kamu kemaren pergi kemana? Jadi
jalan-jalannya”sindir Dena. Apa aku harus menceritakan ke mereka kejadian
kemarin. Sepertinya tidak usah. “ Aku pergi atau tidak bukan urusan kalian.
Kalian gak usah manas-manasin aku buat pergi jalan-jalan. Itukan yang kalian
mau?”jawabku dengan mantap. Aku teringat kata-kata yang Mamah ucapkan kemarin.
Semoga saja ini tidak akan memperburuk hubungan pertemananku.
“ Maafin kita ya Sal, gak seharusnya
kita ngomong kaya gitu sama kamu.”ucap Silvi. Sebaiknya aku maafkan mereka
bukan, karena kesalahan mereka tidak terlalu fatal. “ Iya aku maafin
kalian.”ucapku sambil tersenyum.
Perjalanan ini takkan Aku lupakan,
setelah ini Aku akan lebih mandiri dan terbuka dengan kedua orang tuaku.
Begitupun dengan sepupuku yang lainnya. Bahagia bukan hanya dibelikan sesuatu
yang kita inginkan atau mendapatkan apa yang kita harapkan. Namun bahagia itu
ketika kita sanggup untuk membuat semua orang di sekitar kita ikut tersenyum
karena kebahagiaan yang kita ciptakan.
Selesai
Jangan lupa komentarnya
Terima kasih

Mantuull shann👍👍
BalasHapusMakasih😊
HapusAww kerennn shan👏 calon penulis dilawannn😜
BalasHapusMakasih, amiin ris😊
HapusWiiih kerennn 👏👏
BalasHapusMakasih😊
HapusKereeennn peh🤗
BalasHapusMakasih😊
HapusCovernya mengingatkanku tentang 1D :')
BalasHapusHehehe,😂
HapusKerennn😊😊 lanjutkann😊
BalasHapusMakasih
HapusGood Shan👍🏻
BalasHapusThanks
HapusBagus,, lanjutkan karyamu
BalasHapusSip, makasih
HapusSeru mbak ceritanya, ini 'salma' nya dear nathan bukan? 😂
BalasHapusBukan salmanya nathan. Cuma suka aja sama namanya😊
HapusBahasanya ringan mudah diresapi 👍 ditunggu ya karya selanjutnya
BalasHapusMakasih
HapusBanyak hikmah yang di dapat. Ajib 😊
BalasHapusAlhamdulillah. Makasih
HapusWihh.. Keren ceritanya, hehe.
BalasHapus